Minggu, 26 September 2010

SBI= Sekolah Bertaraf Internasional ATAU Sekolah Berlabel Internasional ???

Sekolah jaman sekarang, katanya sih udah hebat. Teknologi udah maju, alias udah SBI. Padahal entah cuma sok SBI atau beneran SBI juga kagak tau. Orang tua juga pada ketipu. Mentang-mentang lagi jamannya SBI, anak-anak dan orang tua yang pingin anakanya masuk SBI juga lagi booming. Nggak tau deh alasannya. Ada yang mengatasnamakan gengsi, ada yang mengatasnamakan kualitas, dll. Padahal, sebetulnya semua cuma omong kosong. Intinya cuma satu kok, sama aja cuma beda label doang. Ini sebuah cerita nyata. Sebut saja kota Abal-abal. Di kota abal-abal ini ada 1 sekolah SMA yang sudah hampir SBI sebut saja SMA 33 dan 2 sekolah SMA lain yang masih bertahan di RSBI(Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional) sebut saja SMA 11 dan SMA 44. Nah, rencananya nih, diknas abal-abal mau nambah 1 lagi sekolah SBI. Yang jadi kandidat pertama adalah SMA 55 dan yang kedua SMA 22. bla.. bla.. bla.. akhirnya yang kepilih SMA 22 dengan alasan SMA 55, area sekolahnya nggak mencukupi standar. Nah, dari situ kan orang tua pasti lebih milih SMA 22 kan daripada SMA 55. Karena sudah berlabel RSBI. Padahal jelas kandidat pertama adalah SMA 55. Hanya karena luas sekolahnya nggak cukup, akhirnya gagal jadi SBI. TAPI.. Apa sekolah SBI atau RSBI atau sebangsanya itu bagus?? Saya kasih sebuah cerita. Nanti biar Anda cari kesimpulan sendiri.

Masih di kota Abal-abal dan masih dengan SMA 55 tapi dengan SMA 33. SMA 33 adalah sekolah yang hampir menjadi SBI karena SMA ini yang pertama dapet gelar SBI. Apalagi sekolah ini udah tua. Kalo lihat sejarahnya sih, udah ada dari jaman Belanda. Katanya umurnya udah tiga ratusan tahun. Persoalannya begini. Dua anak berbicara tentang sekolahnya masing-masing. Dan dari informasi yang didapat, SMA 55 yang nyaris RSBI itu udah mulai pelajaran tambahan buat anak kelas 3nya. Sedangkan SMA 33 yang hampir SBI itu belum. Rupanya SMA 33 masih sibuk ngurusin akreditasi buat jadi sekolah SBI. Nah, bagi para orang tua tolong garis bawahi persoalan ini. Makanya setiap tahunnya SMA 33 nggak pernah bisa menghabiskan materi pelajaran untuk UAN sedangkan sekolah lain yang tidak punya label SBI, bisa menghabiskan materi dalam waktu setahun kurang. Kenapa? Karena Sekolah SBI tidak pernah memikirkan murid-muridnya. Mereka sudah merasa bangga dengan label SBI yang mereka punya. Seperti SMA 88 di Kota lain. Tahun lalu ada beberapa muridnya yang tidak lulus UAN. TAPI, saat awal ajaran baru juga masih banyak peminatnya. Sedangkan sekolah biasa yang anaknya 100% lulus UAN, masih dipandang sebelah mata. ckckckck.. matanya sudah pada buta dengan barang bermerk ya. padahal belum tentu merk luar negeri lebih bagus daripada merk lokal. ckckck.. aneh. Itulah mengapa sekolah SBI lebih terkesan tidak butuh murid. Karena mereka pikir, apapun yang terjadi rating sekolah tidak akan turun. Lihat saja di Jakarta. Semua anak dengan nilai UAN 9 ke atas, pasti pilihan pertama adalah SMA 8, kemudian 26, kemudian 3. Semua punya label SBI. Yang nilai UANnya 8 dll, nggak ada yang berani masuklah pastinya.

Kesimpulan:
Rupanya kekuatan Merk itu luar biasa. Sampai lupa sama fakta. Huuh, Jaman sekarang yang didengar dan dipertimbangkan adalah Opini. Padahal opini itu kan hanya perasaan saja.

Pesan untuk Orang Tua:
Pilih sekolah yang terbaik buat anak Anda, bukan berarti harus masuk yang bermerk. Masukkan ke sekolah yang bisa membangun personaliti anak Anda. Bangun kepercayaan dirinya. Kalau anak Anda memang menonjol dalam hal pelajaran, musik, tari, dll. Masuk SBI nggak masalah. Tapi yang saya maksud dengan MENONJOL adalah yang BENAR-BENAR MENONJOL. Kalau anak Anda termasuk kategori BIASA seperti saya, dan bukan mental baja, JANGAN PERNAH berpikir untuk memasukkan anak Anda ke SBI. Karena hanya akan membunuh mentalnya. Karena sekolah SBI itu tuntutannya berat. Pertama masalah standar nilai yang cukup tinggi. Nah di sini biasanya banyak terjadi kebohongan-kebohongan untuk mendapat nilai. Kecuali kalau anak Anda bermental baja seperti saya. Yang nggak peduli dengan nilai, yang peduli dengan belajar sendiri dan berusaha memperoleh nilai dengan jujur, nggak masalah. Pikirkan baik-baik pilihan Anda. Jangan kemakan label.

0 komentar:

Posting Komentar